23 October 2014

Zaman Jahiliyah

Zaman Jahiliyah adalah jaman ketika Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menyebarkan agama rahmat untuk seluruh alam, agama Islam. Zaman jahiliyah secara bahasa diartikan sebagai zaman kebodohan. kebodohan ini bukan bermakna tidak pintar. Karena kenyataannya di zaman itu, di Jazirah Arab, di mana Nabi Muhammad SAW ditugaskan berdakwah, adalah pusat peradaban. Sebuah peradaban maju. Sehingga tidak heran para saudagar Arab berdagang ke berbagai negeri seperti Syam(Lebanon, Palestina, Suriah, Yordania). Serta banyaknya saudagar kaya di sana.

Jahiliyah di sini dapat diartikan dalam sisi Aqidah, Tarbiyah, Budaya, dan Peradaban. Kita akan membahasnya satu per satu.
1. Aqidah
Aqidah adalah kepercayaan, iman. Jahiliyah dalm Aqidah adalah karena di zaman itu penduduknya menyembah berhala, menyembah kepada benda-benda yang menurut mereka adalah tuhan mereka. Kenapa dapt dikatakan jahiliyah dalam aqidah? Karena berhala itu pasti dibuat sendiri oleh orang. Nah tuhan kok bisa dibuat oleh manusia. Memangnya siapa sih pencipta dan ciptaan itu? Bukankan Tuhan yang menciptakan manusia, bukannya Manusia yang menciptakan Tuhan. Disitulah letak kebodohannya(jahiliyah).
Pada sisi Tarbiyah(pendidikan) ini adalah dalam hal baca tulis. Hampir semua penduduknya tidak bisa baca tulis. Bahkan dalam sebuah riwayat, hanya ada 17 orang yang bisa baca tulis. Dari sekian banyak orang saat itu hanya 17 orang yang dapt baca tulis. Sehingga dikatakan sebagai zaman kebodohan.
3. Budaya
Kebodohan pada sisi budaya adalah karena di zaman itu penduduknya memegang fanatik kesukuan, sentimen kelompok. Sehingga tak jarang hanya karena hal yang sangat sepele pun antar kelompok dapat bertikai sampai berperang hingga beberapa generasi. 
Dalam hal peradaban, Kejahiliyahan terletak pada ketidakberadaban orang-orangnya. Salah satu hal tidak beradab mereka adalah membunuh anak perempuan yang baru lahir. Bahkan, perempuan pun bagaikan barang dagangan. Yaitu bisa ditawar-tawarkan kepada orang lain ataupun barteran istri. Sungguh tidak beradab. Beruntunglah kaum hawa ini setelah kehadiran Islam. Derajat perempuan ditinggikan bahkan sampai 3 kali dari derajat laki-laki(ayah).

Itulah arti Zaman jahiliyah dalam sisi Aqidah, Tarbiyah, Budaya, dan Peradaban. Sebagai  tambahan, zaman  kebodohan pun dapat juga dilihat dari ketidakmauan mereka dalam menerima Agama Rahmatalil 'Alamin ini. Sungguh sebuah agama yang hakiki. yang merahmati seluruh alam. Semoga dengan ini dapat menguatkan kita dalam memegang agama Hakiki ini. Amin.

Plug In Qur'an In Word

Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam memang merupakan kitab suci mutlaq kebenarannya sampai kapanpun. Al-Qur-an yang kita baca dalam bentuk cetakan buku itu sebenarnya bernama Mushaf Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an itu hanya ada satu di dunia ini, yaitu berupa wahyu Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang ditullis pada batu,pelepah pohon maupun tulang hewan oleh sekretaris pribadi Nabi Muhammad saw. Namun karena pergerakan bahasa kita, maka berubah penyebutannya, yaitu hanya Al-Qur'an.

Seiring perkembangan zaman, maka Al-Qur'an pun harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. penyesuaikan ini bukan dalam hal merubah isi, namun berubah dalam bentuk, dari yang dulu dicetak di kertas, sekarang harus dapat dibaca lewat media elektronik. Inilah hasil dari penyesuaiannya, Al-Qur'an sekarang dapat dibaca di media elektronik lewat handphone, smartphone wa akhwatuha serta lewat PC ataupun laptop. Nah sekarang ini Al-Qur'an dapat pula di baca lewat Ms. Word.

Al-Qur'an Dalam Ms. Word iini berupa Plug In, yang nantinya akan tampil dalam bilah menu Ms. Word. Untuk yang belum ada Plug In Al-Qur.an dalam Ms. Word, klik Di sini. Semoga bermanfaat. Barokallahualaikum.

Zikir Sebagai Penenang Jiwa

"Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya(41). Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang(42). Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman(43)". (Q.S. Al-Ahzab 41-43)

Dzikir artinya mengingat Allah di antaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah. Dzikir adalah suatu kewajiban.

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." [Q.S. Al Ahzab 33:41]

Dilihat dari segi bahasa, kata DZIKIR berasal dari bahasa Arab, adz-dzikr  yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan berbuat baik. Jika kata dzikir dikaitkan dengan Islam, maka memiliki pengertian:

  1. Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Sebab dengan berdoa manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT. Karena itu untuk mewujudkan segala keinginan, dan cita-citanya, manusia butuh pertolongan-Nya.
  2. Dzikir berarti berbuat baik (beramal saleh) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rosulullah saw. Beberapa di antaranya adalah: berbakti kepada orang-tua; berlaku jujur, objektif, dan adil; menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sekalipun kita tidak mengenalnya dengan baik; serta mengajak kepada kebaikan, dan melarang terjadinya kemungkaran;

Dzikir merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. 33/Al-Ahzab: 41-42)

Dzikir, menurut para ulama, dapat dibedakan dalam tiga macam.

  1. Dzikir dengan lisan (dzikr bil al-lisan), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tasbih, tahlil dan lain sebagainya dengan bersuara. 
  2. Dzikir dalam hati (dzikr bi al qolb), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tasbih, tahlil dan lain sebagainya dengan membatin. Tanpa mengeluarkan suara. Sebagian ulama menafsirkan dzikir dalam hati ini, adalah bertafakkur (memikirkan/merenungi) berbagai ciptaan Allah SWT dan kenikmatannya dengan penuh keyakinan, dan perasaan tulus. Inilah dzikir yang dianjurkan oleh Rosulullah saw. Sebab itulah sebaik-baik dzikir kepada Allah SWT. 
  3. Dzikir dengan panca indra atau anggota badan (dzikr bi al jawarih), yakni menundukkan seluruh anggota badan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.
Tentang dzikir panca indra ini, sebagian ulama tasawuf memiliki pengertian dan konsep yang berbeda. Yakni melalui tujuh penjuru panca indra.
  1. Dzikir kedua mata dengan menangis;
  2. Dzikir kedua telinga dengan mendengarkan hal-hal yang baik, dan menghindari mendengarkan pembicaraan yang tiada guna;
  3. Dzikir lidah dan mulut dengan mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT;
  4. Dzikir hati dengan penuh rasa takut dan harap kepada Allah SWT; 
  5. Dzikir ruh dengan tawakkal (berserah diri) kepada Allah SWT dan rela atas segala keputusannya;
  6. Dzikir badan dengan memenuhi berbagai kewajiban; dan
  7. Dzikir kedua tangan dengan bersedekah. 
Dzikir dengan panca indra ini disebut juga dzikir fi’il, yaitu mengingat Allah dengan perbuatan. Misalnya, melaksanakan ibadah (sholat, puasa, dan lain-lainnya), menuntut ilmu, menengok orang sakit, bekerja mencari rezeki yang halal, mencegah kemungkaran, menyuruh orang berbuat baik, dan lain sebagainya.

Dzikir juga berarti al-Qur’an sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. al-Hijr: 9); “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Q.S. An-Nahl: 44)
Semua kata “dzikr (الذِّكْرَ)” dalam ayat-ayat tadi maksudnya al-Qur’an. Imam Ibnu Qoyyim berpendapat, “Dzikrullah itu ialah al-Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan al-Qur’an“

Banyak bukti terjadi pada jaman Nabi saw, bagaimana orang yang asalnya tidak percaya kepada Allah, tidak mau melaksanakan perintah-Nya, dengan adanya al-Qur’an mereka menjadi sadar untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah.

Pada suatu saat Umar r.a. marah, ketika mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad saw. meninggal, sambil menghunus pedang ia berseru, “siapa yang mengatakan bahwa rasul telah meninggal!” Lalu Abu Bakar r.a. datang menghampirinya sambil membacakan ayat, “wa maa muhammdun illa rasuul …” yang artinya “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Q.S. Ali Imran: 144), Seketika itu pula Umar r.a. sadar, lalu berkata, "seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini".

Suatu hari, Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib k.w, menyuruh pembantunya untuk membawakan air wudhu, tanpa sengaja pembantunya tersebut menumpahkan air ke kakinya serta melukainya, Ali lalu marah kepadanya, sampai-sampai mau menempeleng dan menyiksanya. Dengan tenang, pembantunya membacakan ayat tentang ciri orang yang bertakwa, “wal kaazhimiina ghaizha”, saat itu juga Ali Z.A sadar dan menjawab, “ya saya tahan amarah saya, lalu dibacakan lagi lanjutan ayat tersebut, “wal ‘aafiin ‘aninnas”, Ali Z.A menjawab, “ya saya maafkan kamu”, kemudian ia melanjutkan lagi, “wallaahu yuhibbul mukhsinin”, lalu Ali Z.A berkata, “pergilah kamu, sekarang kamu menjadi manusia yang bebas”.

Inilah bukti bahwa al-Qur’an merupakan, pengingat, penggugah, dan penyadar bagi manusia.

DZIKIR SEBAGAI PENENANG JIWA

“Karana itu, berzikirlah (ingatlah) kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu” (al-Baqarah ; 152)
“Dan berzikirlah kepada Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu’ah :10)
“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. ( QS. Ar-Ra’d : 28).

Pernahkah Anda merasakan tidak tenang, tidak tentram, bimbang, bingung karena ada sesuatu yang terlupa. Misalkan, Anda mendapat tugas. Namun karena Anda lupa, maka tak mengerjakan tugas itu. Pada saat deadline tugas itu harus selesai tapi karena lupa anda tidak mengerjakannya. Maka apa yang Anda rasakan, tentu tidak tenang, tidak tenteram, bimbang, dan bingung. Inilah yang dirasakan dalam diri manusia jika tidak ingat. Sama seperti mengingat Allah. Jika Anda lupa atau bahkan tidak mengingat Allah, pasti anda akan merasa tidak tenang, tidak tenteram dsb.

Salah satu cara mendapat ketenangan, ketentraman adalah dengan mengingat Asma-asma Allah (Dzikir). Karena dengan begitu hati dan jiwa akan merasa tenang dan tentram. Allah Swt berfirman, “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”. ( QS. Ar-Ra’d ; 28).
Dalam firman tersebut, hati akan tentram jika mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah (berzdikir) maka Allah pun ingat kepada kita.

“Karana itu, berzikirlah (ingatlah) kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu” (al-Baqarah :152)
Syekhul Azhar Dr. Abdul Halim Mahmud menafsirkan ayat di atas, (berzikirlah (ingatlah) kepadaKu): merendah dirilah kamu terhadap ke AgunganKu, (niscaya Aku ingat kepadamu): niscaya Aku(Allah) akan cucuri rahmat dan berkat dalam hidupmu serta Aku(Allah) akan ampuni dosa-dosamu.

Dari situlah ketenangan jiwa muncul. Karena mengingat Allah, maka Allah akan memberikan rahmat(kasih sayang) dan berkat(kebahagiaan) dalam hidup kita. Jika Allah merahmati dan memberkati hidup kita, niscaya semua mahluk hidup akan menyayangi kita. Itulah sebabnya zdikir dikatakan sebagai penenang jiwa....

15 January 2014

Pemahaman Sempit tentang Ilmu

 
Katakanlah, "Perhatikan apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".  Al-Qur'an surat Yunus : 101.

Sebagai orang yang beriman, maka ia harus memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya. Dengan ilmu yang telah tertanam dalam setiap orang sudah seharusnya mereka dapat menjelaskan tentang kejadian alam semesta. kita sebagai Hamba Allah diperintah untuk merenung dan memikirkan segala yang ada di alam semesta bahkan sampai kepada fungsi dan manfaat-manfaatnya dengan ilmu yang telah diberikan Allah kepada mereka orang-orang beriman.

Namun kebanyakan muslimin terlalu sempit dalam memahami makna ilmu Allah. Sehingga mereka cuma peduli terhadap ilmu akhirat. Tidaklah mereka ingat bahwa Allah sudah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Yunus ayat 101 seperti di atas. Bahwa mereka diperintah untuk memperhatikan segala apa yang ada di alam semesta. Allah telah memerintah kita agar tidak meninggalkan ilmu yang menurut mereka adalah ilmu keduniaan.

Kaum muslimin menganggap bahwa ilmu Alam, Fisika, Biologi, Kimia dan Ekonomi adalah bukan dari Ilmu Islam. Ketahuilah bahwa ilmu tersebut berawal dari para intelektual muslim yang diakui dunia barat sebagai ilmu mereka karena kita sebagai generasi penerus tidak menjaga dan mengembangkan bahkan mentelantarkannya sehingga dapat diakui dunia barat sebagai ilmu mereka.

Sehingga akhirnya pada generasi muslim sekarang adalah mempelajari ilmu tersebut adalah sama seperti belajar ilmu orang-orang sesat. Sungguh kita membutuhkan hidayah untuk itu. Lihatlah bahwa Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Ghoosyiah ayat 17-20:

17. Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?
18. Dan langit, bagaimana ditinggikan?
19. Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?
20. Dan bumi bagaimana dihamparkan? 
Allah menyindir Kaum muslimin dalam surat itu. agar kaum muslimin sadar akan kekhilafan nya. kaum muslimin disindir apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimanakah unta tersebut diciptakan? Kaum muslimin tentu saja tidak dapat menjelaskannya secara ilmiah, yang ia tahu bahwa unta tersebut diciptakan oleh Allah. Ketahuilah bahwa dari ayat 17 dalam surat itu akhirnya memerintahkan agar mereka untuk mengetahui tentang ilmu Biologi. Sebagai sebuah ilmu yang Allah perintahkan untuk diperhatikan,dipelajari, dikembangkan dan akhirnya direnungkan semua bahwa Allah itu Maha Besar, Maha Pencipta. Namun apakah kita kaum muslimin mengindahkan perintah Allah yang difirmankan seperti menyindir kita kaum muslimin yang tak mau mempelajari ilmu tersebut? Renungkanlah...

Allah juga meneruskannya dalam ayat selanjutnya, "Dan langit, bagaimana ditinggikan". Kita tak tahu bahwa langit ditinggikan tanpa tiang penyangga, cuma oleh sesuatu yang bernama gravitasi. Dan bagaimana kita tau ada sesuatu yang bernama gravitasi? itu adalah ilmu yang terdapat dalam ilmu fisika. Dan ilmu itu dikembangkan oleh orang lain, orang barat! Sekali lagi perintah Allah tersebut tidak dijalankan oleh para hambanya yang beriman. Maka renungkanlah..

Lihat juga gunung-gunung. Kenapa gunung tersebut dapat timbul lebih tinggi dari dataran di sekitarnya? Ilmu tersebut adalah ilmu Vulkanologi yang lagi-lagi dikembangkan oleh orang lain. apakah masih tak sadar dengan semua itu? Renungkanlah...

Dalam ayat ke 20 Allah juga memerintahkan hambanya agar memperhatikan bumi ini. bagaimana dapat dibentangkan-Nya dengan segala bentuk rupa. Oleh orang yang memperhatikan dan mengembangkannya dinamakan dengan ilmu Geologi. dan untuk sekian kali bahwa ilmu tersebut dikembangkan oleh orang lain. Tidaklah kita mengerti dan patuh terhadap perintah Allah yang telah difirmankan? Bagaimana muslim sekarang akan maju, jika ia selalu mementingkan ilmu akhirat dan meninggalkan ilmu lain yang dapat memberikan manfaat di bumi. Bukankah Agama Islam juga mengajarkan ilmu sosial, tentang hubungan antar manusia dengan alamnya.

Renungkanlah para muslimin kita telah terjebak dalam pemikiran sempit kita. Tak ingatkah bahwa dulu ada flu babi yang obatnya juga berasal dari babi. dan kita sebagai umat muslim tak mungkin mengkonsumsinya. karena babi itu haram(diperbolehkan jika itu adalah jalan satu-satunya). Dan apa tindakan kita sebagai umat muslimin. cuma bisa berharap dapat membuat obat flu babi yang dibuat tanpa ada kandungan babi tanpa ada usaha untuk mencarinya sendiri. Karena, Ya karena kita Kaum Muslimin tak mengetahui tentang ilmu untuk mencari obat tersebut. Untung saja sudah ditemukan obatnya. Ini cuma satu contoh kecil saja akibat sempitnya pemahaman tentang makna ilmu.

Seiring tuanya dunia ini semakin banyak penyakit yang akan melanda. Dan jika kita tak segera memperbaiki diri bisa-bisa kita mengkonsumsi obat yang terdapat zat haram karena kita tak bisa mencarinya sendiri karena pengetahuan tentang itu sangat miim bahkan kita bodoh tentang ilmu itu. 

Walaupun sebenarnya ada obat lain yang halal. Namun apa yang dipermasalahkan oleh orang barat tentang halal dan haram. Jika sudah ditemukan obat untuk penyakit walau bagi muslimin itu berasal dari zat haram tapi tetap saja di pakai. Karena mereka(mungkin) juga tak mau mencari obat lain yang halal karena sudah ada obat yang ditemukan. Ibarat sudah menemukan jalan yang dapat menuju suatu kota, maka ia tidak akan mencari jalan lain untuk menuju ke kota tersebut. Walau ada jalan lain. Karena buat apa, jalannya kan sudah ditemukan, mau apa mencari lagi. Maka RENUNGKANLAH HAI UMAT MUSLIM....

16 September 2013

Renungkanlah

Pernahkah kalian berfikir tentang untuk apa kita diciptakan? atau apakah kita semua diciptakan hanya untuk sia-sia, hanya untuk mengajhncurkan dunia tanpa melestarikannya? apakah kita diciptakan di dunia ini tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh yang menciptakan kita? Jawabannya ada pada diri Anda sendiri.

Kita, manusia diciptakan dengan kesempurnaan fisik serta dibekali akal yang mumpuni yang dapat memberikan jalan kemudahan kita untuk hidup di dunia. Sesungguhnya orang-orang yang berakal adalah orang-orang yang selalu berfikir tentang apa yang ada pada diri kita, untuk apa diciptakan., apakah cuma untuk penghuni dunia dengan segala tingkah lagu perbuatan yang merusak dan tidak serta apakah akan ada hari dimana semua itu diminta pertanggungjawabannya...???


Manusia diciptakan di dunia ini dengan tanpa alasan. Manusia diciptakan dengan membawa suatu kewajiban yang dimana akhirnya akan diminta pertangguingjawabannya. Kewajiban manusia diciptakan di dunia itu cuma satu, ialah hanya untuk beribadah kepada Tuhan yang menciptakan mereka, Yaitu Allah SWY, sesuai firman-Nya:

وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Dari firman Allah di atas sudah jelas bahwa manusia dan jin itu diciptakan hanya untuk beribadah kepadaku. Janganlah kalian menyangka kalau kita diciptakan hanya untuk beribadah seperti Sholat, Zakat, Puasa, serta Haji saja, Arti Ibadah dalam ayat itu adalah Ibadah yang wajib serta yang sunah. Ibadah yang wajib adalah dengan menjalankan rukun Islam yang lima. Ibadah yang sunnah adalah segala suatu perbuatan yang baik yang mendatangkan manfaat yang dibarengi dengan ikhlas karena Allah SWT. Misalnya kita tidur, berniatlah dengan niat untuk mengistirahatkan badan untuk menyegarkan tubh sehingga untuk menjalankan sholat lima waktu menjadi semangat. Atau saat kita bekerja berniatlah untuk mencari nafkah untuk mencari ridlo Allah. Dan lain-lain sebagainya.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
  
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah Thogut (sesembahan yang disembah selain Allah)” (QS. An-Nahl : 36)


Seseorang tidak boleh beribadah (menyembah) kepada selain Allah, jika hal ini dikerjakan maka sungguh dia telah berbuat syirik (menyekutukkan Allah). Ingatlah! Menyekutukan Allah adalah dosa yang paling besar dari semua dosa-dosa besar.
Allah Subhanahu wata’aala berfirman dalam Q.S An-Nisa' :36:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (Qs. An-Nisa’:36)

Dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa jangan menyekutukan Allah dengan ssesuatupun, dengan apapun, dengan siapapun. Karena itu semua tidak dapat mendatangkan madlorot serta manfaat kepada kamu. Manfaat atau madlorot itu datangnya dari Allah, jadi walaupun kamu merasa sesuatu itu mendatangkan sesuatu untukmu, Hakekatnya itu semua dari Allah SWT, Allah-lah yang telah Berkehendak.

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. An-Nisa : 48)

Menyekutukan Allah adalah perbuatan syirik mutlak yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT sampai kapanpun. Barang siapa tidak mendapatkan Ampunan dari Allah, maka ia akan mendapatkan adzab, akan mendapatkan siksaan yang berat. Ingatlah! Allah Maha keras siksaannya.. Jadi marilah kita luruskan fikiran bahwa semua ini, kita manusia, diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Karena Allah Maha Pencipta. Allah Maha Besar.

Setelah mengetahui bahwa kita semua, manusia diciptakan hanya untuk beribadah, lalu apakah ada pertanggung jawabannya. Ya, ada! Dalam firman Allah SWT:

لِّلَّهِ ما فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.s. Al-Baqarah[2]: 284).

Segala apa yang kita perbuat, baik itu baik ataupun buruk pasti akan diperhitungkan dan dimintai pertanggungjawabannya. Siapa yang selama hidupnya selalu berbuak kebaikan di dunia, maka akan diberi kenikmatan yang luar biasa di akherat setelah diperhitungkan semua amalnya. dan sebaliknya. Maka dari itu, kang, mas ade, kaka bapa, ibu semuanya marilah kita fikirkan segala apa yang akan kita perbuat di dunia. Karena siapa yang menanam kebaikan maka dialah yang akan mengambil hasil manfaatnya, juga sebaliknya.

Sebagai manusia yang diciptakan hanya untuk beribadah maka laksanakanlah apa yang sudah menjadi kewajiban kita atas Tuhan kita, jangan berbuat kerusakan di bumi karena perbuatan kita di dunia akan dipertanggungjawabkan di akherat. Mari sama-sma menapaki jalan kebenaran, jalan keridloan Tuhan, yaitu jalan Islam yang diridloi oleh Tuhan Seluruh Alam, Allah SWT. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita.

Kesejahteraan Pajak atau Zakat???

Melihat uang negara yang hasilnya dari kumpulan pajak rakyat yang terus menerus dikorupsi membuat saya berfikir, apakah ada jalan lain yang dapat membuat Indonesia sejahtera tanpa harus membayar pajak. Akupun terus berfikir apakah bangsa Indonesia bisa sejahtera walau tanpaadanya pajak. Setelah ku telusuri hal-hal apa yang dapat mewujudkannya, akhirnya saya dapatkan caranya. Jawabannya, Bisa! Indonesia bisa sejahtera walau tanpa harus membayar pajak pada negara dengan cara Zakat! Kenapa zakat? Apa hubungannya zakat dengan mensejahterahkan Bangsa Indonesia?

Sebelumnya, kita bahas dulu sedikit tentang zakat. Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (8 golongan) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. Zakat merupakan rukun ketiga dari Rukun Islam.
Zakat terbagi atas dua jenis yakni:

08 July 2013

Memabaca, Sebuah Surat Perintah Dari Langit.

Membaca merupakan kunci ilmu pengetahuan. Setiap bangsa dengan budaya baca tinggi, bangsa tersebut pasti maju dalam ilmu pengetahuan. Sebut saja negara Jepang, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat adalah contoh nyata yang membenarkan hipotesis tersebut. Pada zaman dahulu ada Yunani kuno, sebuah bangsa yang terbagi dua, Sparta dan Athena. Keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Jikalau Sparta mengandalkan kekuatan otonya saja, pendidikan militer menjadi prioritasnya sehingga dalam waktu sekejab saja kedigdayaannya runtuh tanpa meninggalkan peradaban berarti bagiumat manusia sesudahnya.

Berbeda dengan Athena yang mengutamakan pemikiran sehingga melahirkan filsuf besar seperti Plato, Aristoteles serta yang lainnya. Mereka semua adalah para pembaca, peneliti, pemikir ulung dimasanya. sehingga sampai saat ini karyanya masih dapat kita rasakan.

Dalam peradaban Islam,

02 July 2013

Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (ASWAJA)

Pada saat sekarang ternyata masih ada orang yang belum faham apa itu ahlus sunnah wal jama'ah (ASWAJA) dan bagaimana ahlus sunnah wal jama'ah (ASWAJA).
Kalau membahas secara mendetail apa dan bagaimana itu Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (ASWAJA) memang sangat panjang dan untuk menulisnya membutuhkan banyak waktu,karna itu saya mencoba mencari tulisan mengenai Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di beberapa Situs Blogger Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dan akhirnya saya menemukannya.

Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (ASWAJA)
Bisa difahami bahwa definisi Ahlussunnah wa Al jamaah ada dua bagian yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus .
* Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik ( fiqih) dan hakikat ( Tasawwuf dan Akhlaq ) .
* Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad / keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah.

Pada hakikatnya

25 March 2013

Ramalan = Kebohongan


Tahukah kalian kenapa para dukun, para peramal serta ahli nujum tidak punah dimakan zaman, karena pada masa sekarang masih banyak orang-orang yang percaya akan kekuatan mereka. Karena pada zaman dahulu, sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, mereka para dukun wa akhwatuha sangat dipercaya oleh orang-orang. Ya mereka para dukun-dukun itu sebenarnya bekerjasama dengan makhluk halus seperti jin ataupun syaiton. Para syaiton-syaiton ini akan mencuri berita-berita langit yang kemudian akan dilaporkan kepada si dukun. Nah inilah yang membuat prediksi para dukun di zaman sebelum lahirnya Nabi Muhammad banyak yang benar. Tapi jangan salah sangka, bahwa pada zaman sekarang sampai hari akhir ramalan-ramalan serta prediksi para dukun wa akhwatuha itu tidak ada yang benar. Karena mulai dari zaman dimana dilahirkannya Seorang manusia mulia, Nabi Muhammad SAW sampai hari kiamat semua pintu-pintu langit dijaga sangat-sangat ketat oleh para malaikat untuk mencegah para saiton mencuri berita-berita langit.

Itu semua terjadi karena kelahiran seorang manusia mulia, Nabi Muhammad SAW adalah rahmat bagi seluruh alam, sehingga semua pintu-pintu langit pun dijaga oleh para malaikat. Sehingga banyak para syaiton wa akhwatuha yang ingin mencuri berita langit harus pulang dengan membawa nama saja karena keburu mati terbakar oleh para malaikat penjaga. Sehingga semua ramalan-ramalan para dukun itu adalah bohong, tidak dapat dipercaya kebenarannya dan hanya menunggu hasil kebetulannya saja. Jadi jangan heran kalau para dukun  yang membuat ramalan yang tidak jelas sumbernya yang sangat tidak dipercaya sumbernya kemungkinan dapat terjadi karena semua ini hanyalah kebetulan, dan kebetulan itu datangnya tidak disengaja. Jadi ibarat itu Setrilyun ramalan para dukun hanya 1 saja yang mungkin kebetulan terjadi. sekali lagi itu hanya kebetulan. Bukan bersumber dari para dukun itu.

Jadi masihkan Anda mempercayai mereka, yang membuat sebuah ramalan dan sejenisnya dengan tanpa sumber yang jelas dan dapat dipercaya??? Ingatlah saja kalau semua ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa, jadi percayakan semua pada-Nya. Bahwa semua yang akan terjadi dan yang tidak akan terjadi adalah kehendak-Nya. Yang tidak ada makhluk di dunia ini yang mampu menyamainya. Maha Besar Allah SWt yang telah mencintakan kita dengan Qodo' dan Qodar-Nya.